Idza : Jangan Kesampingkan AKB dan AKI , Meski Ada Pandemi Covid-19

Pengelola Berita

2020-10-18 | 17:38:03

# Comments

Dinkominfotik Brebes <humasbrebes@gmail.com>

Lampiran17.12 (23 menit yang lalu)
 
 
kepada Whawaludinpelitabirobrebesdisdukcapilbrebesfauzighofir1963newsroommilkowBayuhumasjateng2000humasIsmailPortalnal.tribun.jatengNewsroomhumasjateng2000brebescanelgemajatengandrianigong2525masgusti77kristi.dwinewsroom.eksbakorwil3bayinulhaqeko_fidiyantoharviyanto72ennonymous_kompas.comabu.medinas.brebeskoransatubrebesolammahesamediakuredaksiGelombanghartadisetiawan9agusrobie
 
 
 
Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) dan Angka Kematian Bayi dilahirkan (AKB) yang masih tinggi di Kabupaten Brebes jangan sampai luput perhatian meskipun saat ini tengah terkonsentrasi penanganan pencegahan Covid-19. AKI-AKIB harus ditekan semaksimal mungkin agar tidak terjadi lonjakan jumlah
Demikian penekanan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH pada rapat upaya percepatan penurunan AKI-AKB Kabupaten Brebes, di Pendopo Bupati Brebes, Rabu (14/10).
“Meskipun kita masih berjibaku dalam penanganan pencegahan penyebaran covid-19, tapi jangan sampai kita mengesampingkan problematika kesehatan yang lain seperti AKI dan AKB,” tegas Idza.
Kata Idza, upaya memperbaiki kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak telah menjadi prioritas utama dari pemerintah. Maka tinggi rendahnya AKI dan AKB menjadi indikator utama derajat kesehatan suatu negara.
“AKI dan AKB menjadi indikator kemampuan dan kualitas pelayanan kesehatan, kualitas pendidikan, dan pengetahuan masyarakat, kualitas kesehatan lingkungan, sosial budaya serta hambatan dalam memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan,” tutur Idza.
Idza menekankan, seluruh elemen mulai dari pemerintah desa, camat, OPD, rumah sakit, organisasi profesi dan elemen masyarakat secara bersama-sama, bertanggung jawab terhadap penyelamatan ibu dan bayi baru lahir sesuai dengan tupoksinya. Memantau secara ketat dalam penanganan kondisi orang hamil di daerahnya masing-masing. Bila hal tersebut tidak terus diperhatikan dan ditangani dengan serius, maka kondisinya bisa sangat mengkhawatirkan.
“Semua pihak harus tandang dalam upaya penyelamatan ibu dan bayi baru lahir, sehingga angka AKI dan AKB tidak bertambah lagi,” tegas Bupati.
Dalam kaitan ini, Idza juga menginstruksikan agar program Keluarga Berencana digencarkan. Sehingga kesehatan ibu dan anak terjamin karena menjadi keluarga yang terencana dalam melahirkan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes dr Sartono menjelaskan, jumlah angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Brebes pada tahun 2019 ada 37 kasus dan angka kematian bayi (AKB) ada 304 kasus.
Sedangkan tahun 2020, terhitung sampai bulan Oktober Jumlah angka kematian ibu ada 45 kasus, dan angka kematian bayi (AKI) per Agustus ada 201 kasus.
Kematian ibu dan bayi merupakan hasil dari interaksi berbagai aspek, baik aspek klinis, aspek sistem pelayanan kesehatan maupun faktor–faktor non kesehatan.
Sartono menghendaki adanya persamaan persepsi dan pengertian dari semua pihak mengenai peran dan pentingnya berbagai aspek tersebut. Strategi untuk mengatasinya harus terintegrasi menyeluruh dari berbagai aspek tersebut.
Kata Sartono, ada dua faktor penyebab kematian ibu, yakni penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung diantaranya seperti perdarahan, pre eklamsia/eklamsia dan infeksi. Sedangkan penyebab tidak langsung yaitu penyakit jantung, anemia, tbc, 4 terlalu : terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat dan terlalu banyak.
Pertemuan dihadiri Kepala OPD terkait, Camat se Kab Brebes, Kepala Kantor Kemenag, Ketua TP PKK,  Ketua GOW, Direktur RSU Negeri dan Swasta, Kepala UPTD BLUD Se Kab Brebes, Kepala Cabang BRI, Perwakilan Dokter SPOG, Ketua IDI Cabang Brebes, Ketua IBI Cabang Brebes, Ketua PMI Cabang Brebes, Kepala BPJS Kesehatan Brebes,  Ketua FMM Madani Kab Brebes, Ketua ESHA Unggul Brebes dan undangan lainnya. (Bambang Sugiarto/Wasdiun)

Bagikan :



Leave a comment












-->