Atasi Lahan Kering, Brebes Segera Canangkan Program Kementerian Pertanian

Pengelola Berita

2020-01-30 | 17:05:57

# Comments

Permasalahan yang sering terjadi di sektor pertanian Kabupaten Brebes yaitu kurangnya kebutuhan air. Terlebih saat musim kemarau tiba, banyak petani mengeluhkan pasokan air untuk sawahnya. Mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Brebes, akan segera melaksanakan program Kementerian Pertanian Indonesia.
 
Adapun program tersebut yaitu Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu di Lahan Kering “Dry Land”. Total bantuan sebesar Rp 150 miliar digelontorkan Kementerian Pertanian, rencananya akan direalisasikan pada Juli mendatang. Dengan jangka waktu pelaksanaan yaitu 2021 sampai 2025.
 
Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH mendukung program tersebut, dan berjanji akan segera mencari solusi terbaik. Di mana permasalahan di sektor pertanian menjadi fokus pemerintah. Karenanya sarana dan prasarana pertanian akan diperbaiki bahkan ditambah.
 
“Semoga bantuan dari Kementerian Pertanian dapat memperbaiki kawasan pertanian dari hulu hingga hilir," ucap Idza saat Rapat Koordinasi Pengembangan Kawasan Pertanian Terpadu di Aula Kecamatan Bumiayu, Kamis (23/1).
 
Idza mengatakan, bantuan akan diberikan bertahap, karena sifatnya multi years. Rencananya akan memperbaiki dari hulu seperti rehabilitasi lahan di Sirampog.
 
"Adanya program ini, dapat memperbaiki dan memperkuat ketahanan pangan di Indonesia," pungkasnya.
 
Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes Muhammad Furqon mengatakan, tujuan program tersebut adalah untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan petani melalui pengembangan infrastruktur lahan dan air, pengembangan sistem agribisnis dan penguatan sistem kelembagaan.
 
"Salah satu penyebab permasalahan yaitu menurunnya luas lahan baku sawah pertanian akibat peralihan fungsi dari pertanian ke non pertanian, yang secara langsung menurunkan produksi pertanian," jelasnya.
 
Sementara itu, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Kecamatan Tonjong Zawawi mengungkapkan, saat ini lahan pertanian di daerahnya kesulitan air. Penyebabnya lantaran kondisi Bendungan Tanggeran rusak.
 
Sudah ditinjau dari kabupaten hingga provinsi. Dampak kerusakan bendungan, petani kesulitan mencari air,” katanya.
 
Dikatakan Zawawi, pihak kabupaten hingga provinsi bahkan sudah meninjau lima tahun lalu. Namun nyatanya, rencana perbaikan tak kunjung terealisasi.
 
“Kami sudah mengajukan perbaikan, tapi tak kunjung diperbaiki. Padahal ada 700 hektare lahan pertanian yang bergantung pada bendungan,” ujarnya.
 
Hal yang mirip juga dikeluhkan oleh P3A Kecamatan Bumiayu Junedi. Ia mengaku, rata-rata sarana dan prasarana pertanian di wilayahnya kondisinya memprihatinkan.
 
“Sarpras seperti irigasi untuk sawah sudah banyak yang rusak. Kami minta agar dapat dicek dan segera diperbaiki,” pintanya.
 
Ia menambahkan, adanya perluasan daerah perumahan mengancam luas lahan pertanian. Junedi pun meminta agar ada solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
 
Rapat dihadiri SKPD terkait serta Poktan/Gapoktan, P3A/GP3A, KWT, UPJA sewilayah Brebes Selatan. (Bayu Arfi/ Wasdiun)

Bagikan :



Leave a comment